Kamis, 06 Maret 2014

Sejarah Or-Ska

Or-SKA Band adalah band yang berasal dari kota Ciamis, Jawa Barat. Band ini didirikan pada tanggal 1 Mei 2011, adanya band ini berawal mula dari adanya musik di sekolah mereka yaitu SMA INFORMATIKA Ciamis yang bernama Music for Fun. Or-SKA terdiri dari 6 personil belum terhitung additional, diantaranya vokalis : Gita Desera, Asep Herdi, gitaris : Rijal N F, Dicky J, basis : Ilham A T dan drummer : Syahrul J A W. Dalam perjalanannya, band ini sudah berinjak dari acara - acara, mau itu acara sekolah ataupun luar sekolah. Dengan seluruh tekad dan kemampuan mereka, Or-SKA masih tetap ada dan akan terus ada mengikuti arus jaman, bukan hanya band yang ada karena saat ada acara musik saja, tapi ada karena keinginan, hobi dan cita - cita mereka yang besar akan dunia musik.

Kamis, 25 April 2013

PSB Sma Informatika Ciamis Tahun Ajaran 2013 - 2014



PERSYARATAN PENDAFTARAN :

A. Administrasi

    1. Mengisi Formulir Pendaftaran

    2. SKHUN Asli

    3. Foto copy SKHUN dilegalisir (2 Lembar)

    4. Foto copy Ijazah dilegalisir (2 Lembar)

    5. Foto copy Akte Kelahiran (2 Lembar)

    6. Pas Foto berwarna : 2 x 3 sebanyak 2 Lembar

                                    3 x 4 sebanyak 2 Lembar

B. Keuangan

    Biaya masuk sebesar Rp. 699. 000  

    untuk membiayai sbb :

    1. Kegiatan MOPD, TKJ, dan Mata Cakap

    2. Buku Catatan Pribadi Siswa

    3. Buku Rapor Keinformatikaan

    4. Baju Keinformatikaan

    5. Seragam Olahraga

    6. Baju Batik

    7. Atribut PSAS dan Pramuka

    8. SPP bulan juli 2013 sebesar Rp. 90.000

Setiap pendaftar mendapatkan gratis Flashdisk 4 GB pendaftaran Siswa Baru : 11 Maret - 13 Juli 2013

INFORMASI REKRUTMEN SISWA POTENSIAL (RSP)

Bahwa RSP adalah Program seleksi untuk memperoleh Beasiswa gratis Dana Sumbangan Pendidikan.

 

Kategori Seleksi :

1. Ilmu Pengetahuan Umum

    - Tes Ujian Tulis Pilihan Ganda

    - Rangking 1 s.d 10 pada semester 5 di SMP/MTs

2. Ilmu Komputer

    - Tes Ilmu Komputer

    - Nilai TIK minimal 80 pada semester 5 di kelas

3. TKJ dan Skill Olahraga

    - Tes Praktek Olahraga

4. Kategori Khusus (Presentasi)

    - Melampirkan Sertifikat/Piagam penghargaan bidang akademik, Seni, Olahraga, dan lainnya. Minimal setingkat Kabupaten.

 

Pelaksanaan RSP :

- Gelombang I  : Minggu, 24 Maret 2013 Pkl. 08.00 Wib

- Gelombang II : Minggu, 12 Mei 2013 Pkl. 08.00 Wib di kampus SMA INFORMATIKA CIAMIS

 

Persyaratan Mengikuti RSP :

- Mengisi Formulir RSP

- Melampirkan Fotocopy Rapor Semester Lima Untuk Ketegori Ilmu Pengetahuan Umum dan Ilmu Komputer.

Pendaftaran RSP . . .GRATIS.

Jumat, 05 Oktober 2012

KARINDING



Karinding merupakan salah satu alat musik tiup tradisional Sunda. Ada beberapa tempat yang biasa membuat karinding, seperti di lingkung Citamiang, Pasirmukti, Tasikmalaya, Lewo Malangbong, (Garut), dan Cikalongkulon (Cianjur) yang dibuat dari pelepah kawung (enau). Di Limbangan dan Cililin karinding dibujat dari bambu, dan yang menggunakannya adalah para perempuan, dilihat dari bentuknya saperti tusuk biar mudah ditusukan di sanggul rambut. Dann bahan enau kebanyakan dipakai oleh lelaki, bentuknya lebih pendek biar bisa diselipkan dalam wadah rokok. Bentuk karinding ada tiga ruas.

Cara Memainkan

Karinding disimpan di bibir, terus tepuk bagian pemukulnya biar tercipta resonansi suara. Karindng biasanya dimainkan secara solo atau grup (2 sampai 5 orang). Seroang diantaranya disebut pengatur nada anu pengatur ritem. Di daerah Ciawi, dulunya karinding dimainkan bersamaan takokak (alat musik bentuknya mirip daun).

Fungsinya

Karinding yaitu alat buat mengusir hama di sawah. Suara yang dihasilkan dari getaran jarum karinding biasanya bersuara rendah low decible. Suaranya dihasilkan dari gesekan pegangan karinding dan ujung jari yang ditepuk-tepakkan. Suara yang keluar biasanya terdengar seperti suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan lain-lain. Yang jaman sekarang dikenal dengan istilah ultrasonik. Biar betah di sawah, cara membunyikannya menggunakan mulut sehingga resonansina menjadi musik. Sekarang karinding biasa digabungkan dengan alat musik lainnya.
Bedanya membunyikan karinding dengan alat musik jenis mouth harp lainnya yaitu pada tepukan. Kalau yang lain itu disentil. Kalau cara ditepuk dapat mengandung nada yang berbeda-beda. Ketukan dari alat musik karinding disebutnya Rahel, yaitu untuk membedakan siapa yang lebih dulu menepuk dan selanjutnya. Yang pertama menggunakan rahèl kesatu, yang kedua menggunakan rahel kedua, dan seterusnya. Biasanya suara yang dihasilkan oleh karinding menghasilkan berbagai macam suara, diantaranya suara kendang, goong, saron bonang atau bass, rhytm, melodi dan lain-lain. Bahkan karinding bisa membuat lagu sendiri, sebab cara menepuknya beda dengan suara pada mulut yang bisa divariasikan bisa memudahkan kita dalam menghasilkan suara yang warna-warni. Kata orang tua dahulu, dulu menyanyikan lagu bisa pakai karinding, Kalau kita sudah mahir mainkan suara karinding, pasti akan menemukan atau menghasilkan suara buat berbicara, tetapi suara yang keluar seperti suara robotik.

Kamis, 20 September 2012

LUNTURNYA BUDAYA TRADISIONAL

LUNTURNYA BUDAYA TRADISIONAL


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki keberagaman terbanyak di dunia. Keberagaman tersebut berupa bahasa, budaya, hukum adat, kearifan tradisional, agama hingga ras. Namun sayangnya keberagaman yang terjadi di Indonesia dapat memicu konflik sehingga dapat memecah persatuan nasional jika tidak dicarikan penyelesaian akar masalah. Untuk itu diperlukan perekat yang dapat mempersatukan rakyat Indonesia.

Di masa lampau, Sumpah Pemuda menjadi alat yang dapat menyatukan keberagaman di Indonesia. Dari Sumpah Pemuda itulah kita dikenalkan dengan bagaimana memandang bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia. Namun dengan kondisi kekinian bangsa Indonesia perlu adanya perekat baru yang bukan sekedar doktrin semata dan memandang kembali bangsa Indonesia sebagai sebuah negara tanpa menghilangkan keberagaman bangsa. Kondisi kekinian Indonesia berada ditengah globalisasi yang mengikis kesadaran generasi muda akan warisan tradisi budaya Indonesia sehingga diperlukan sebuah solusi untuk mengenalkan kembali warisan tradisi budaya Indonesia.

Apa yang perlu dipikirkan tentang masalah ini, antara lain :
1.Pengaruh dan dampak budaya asing di indonesia
2.Upaya Melestarikan Budaya Indonesia dengan tetap membawa Budaya Asing
3.Peran Generasi Muda Dalam Melestarikan Budaya Indonesia

Keberagaman budaya di Indonesia seharusnya dapat dijadikan sebuah alat untuk menyatukan elemen-elemen bangsa Indonesia dengan lebih mengedapankan persamaan-persamaan ekspresi budaya tradisional yang berkembang karena proses akulturasi dan asimilasi budaya selama ribuan tahun.

Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.

Minggu, 01 April 2012

Seni Sunda

Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda.
Ada dua pengertian tentang istilah degung:
  1. Degung sebagai nama perangkat gamelan
  2. Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro ( berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).
Degung sebagai unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Jenis Gamelan Dalam Seni Sunda Terutama Degung

Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyaraka dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.
Ada gamelan yang sudah lama terlupakan yaitu KOROMONG yang ada di Kp. Lamajang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Gamelan ini sudah tidak dimainkan sejak kira-kira 35 – 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup untuk menabuhnya karena gamelan KOROMONG ini dianggap mempunyai nilai mistis. Gamelan KOROMONG ini sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik. Untuk supaya gamelan KOROMONG ini dapat ditabuh, maka kata yang memegang dan merawat gamelan tersebut harus dibuat Duplikatnya.


Menyimak Sejarah Degung

Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreasi urang Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).
Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.
Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.
Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites