HARTA DAN AKAD PENGEMBANGAN HARTA DALAM ISLAM
A.Manajemen Harta Dalam Islam
Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqhuz – Zakat, mal (jamaknya amwal),
yang sering disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah, dapat diartikan
sebagai harta, kekayaan, sesuatu yang dimiliki, dan sejenisnya. Dalam
terminologi Arab, harta (mal) adalah segala sesuatu yang diinginkan
sekali oleh manusia menyimpan dan memilikinya. Ensiklopedia – ensiklopedia
arab, misalnya al-Qamus al – Muhith karangan Najmuddin al-Firuzabadi
ataupun Lisanul-Arab karangan
Ibnu Manzhur, menyebutkan harta (mal) adalah segala sesuatu yang
dimiliki. Ibnu Asyr mengatakan bahwa pada mulanya, harta (mal) berarti
emas dan perak, tetapi kemudian berubah pengertian menjadi segala barang yang
disimpan dan dimiliki.
Satu
hal yang perlu digaris bawahi dalam praktik Manajemen Kekayaan Islam (Islamic
Wealth Management) atau Perencanaan Keuangan Islam (Islamic Financial Planning)
sejauh ini belum mencerminkan hakikat pengelolaan kekayaan dalam Islam. Nilai –
nilai moral dalam aqidah dan akhlak, belum tergambar secara utuh dalam
aktifitas industri baru tersebut. Sebelum memahami secara menyeluruh apa
hakikat Islamic Wealth Management dan menanamkan jiwa keislaman dalam muamalah,
sebaiknya diidentifikasi dulu nilai – nilai moral Islam yang berkaitan erat
dengan harta. Beberapa nilai dari nasehat Nabi yang bisa dijadikan pedoman,
yang artinya : “Harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang
shaleh” juga hadist yang artinya : “Sebaik – baik manusia adalah manusia
yang memberikan manfaat bagi manusia lain”.
Nilai
moral yang disebutkan oleh hadist yaitu harta yang baik adalah harta yang
berada di tangan orang – orang shaleh, berarti terkait dengan pengelolaan
kekayaan atau harta. Pengelolaan harta pada dasarnya akan mencerminkan
keshalehan pelaku atau pemilik harta. Harta tersebut dikelola dengan niat, cara
– cara dan tujuan untuk kepentingan Allah SWT. Nilai moral kedua yaitu, nilai
manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia
lain. Kekayaan sepatutnya menjadi alat untuk menyebarkan atau mengoptimalkan
kemanfaatan pemiliknya. Maka, keshalehan seseorang akan semakin bisa diukur
berdasarkan jumlah kekayaannya yang mampu memberikan manfaat bagi
lingkungannya.
Berdasarkan
nilai – nilai moral Islam ini, orientasi manusia dalam mengelola hartanya
berdasarkan syari’ah Islam akan berorientasi pada dua hal. Pertama, pemanfaatan
harta tersebut digunakan untuk kelangsungan kehidupan diri dan keluarganya,
sebagai sebuah kebutuhan yang wajib berdasarkan kefitrahannya sebagai manusia.
Kedua, adalah pemanfaatan harta yang bermotif pada amal shaleh sebagai alat
dalam rangka mendapatkan gelar kemuliaan dari Tuhan.
Contoh
– contoh yang disajikan oleh kehidupan para Nabi dan Rasul, Sahabat dan para
Wali. Mereka mengambil apa yang cukup untuk hidup mereka dan selebihnya mereka
ikhlaskan untuk manusia lain, untuk umat dan Tuhan mereka. Seseorang diantara
mereka yang mulia itu pernah berkata : “Manusia di dunia itu seperti tamu, dan
harta mereka seperti pinjaman. Akhirnya tamu akan pergi dan pinjaman pasti
dikembalikan.”
B.Pedoman Dalam Manajemen Harta Secara Syar’i
Berikut
pedoman dalam aplikasi manajemen atau pengelolaan kekayaan secara Islami yaitu
:
a.
Mencari
Harta
Hal
– hal yang perlu diperhatikan dalam mencari harta menurut pandangan Islam
adalah :
1.
Niat,
cara dan tujuan hanya dikarenakan, digariskan dan ditujukan untuk Allah (halal
dan thayib).
2.
Mendukung
ibadah dan amal shaleh bukan menghambat ibadah dan amal shaleh.
3.
Mempertimbangkan
optimalisasi kontribusi secara waktu, tenaga dan harta bagi dakwah, masyarakat
dan keluarga.
b.
Membelanjakan
Harta
Hal
– hal yang perlu diperhatikan dalam membelanjakan harta dalam pandangan Islam,
yaitu :
1.
Mempertimbangkan
kebutuhan dasar.
2.
Mempertimbangkan
kemanfaatan atau optimalisasi amal shaleh.
3.
Mempertimbangkan
kepentingan dakwah, masyarakat dan keluarga yang bersifat mendesak.
c.
Menyisihkan
Harta
Manajemen
harta adalah mengatur harta untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Berikut
dua cara yang bisa digunakan :
1.
Menabung
a)
Kebutuhan
(bukan keinginan) di masa depan.
b)
Kebutuhan
sekarang yang mendesak.
c)
Tidak
bermotif menumpuk harta.
2.
Investasi
atau usaha
·
Niat,
cara dan tujuan hanya dikarenakan, digariskan (syariat) dan ditujukan untuk
Allah (halal dan thayib).
·
Mempertimbangkan
kontribusi kemanfaatan atau amal shaleh yang maksimal bagi manusia lain,
lingkungan keluarga dan masyarakat.
·
Mendukung
kesejahteraan (kemandirian ekonomi umat) dan dakwah.
Aktivitas pengelolaan harta juga harus dilandasi oleh prinsip
keyakinan bahwa setiap harta yang dibelanjakan dijalan Allah akan Allah lipat
gandakan balasannya, baik berupa pahala maupun balasan harta materiil. Keyakinan
ini pula menjadi sangat penting dalam rangka melindungi nilai kekayaan
tersebut. Salah satu cara melindungi nilai kekayaan dalam Islam adalah
menginfakannya dijalan Allah.
C. Akad Dalam Keuangan Syariah
Gambaran hukum Islam mengenai prinsip – prinsip keuangan syari’ah
adalah tercakup dalam bentuk kontrak (akad) dan bentuk instrumen keuangan. Hubungan
ikatan dagang dan keuangan di dalam Islam diatur dengan hukum fiqh muamalat.
Fiqh muamalat membedakan antara wa’ad dengan akad (aqad). Wa’ad
adalah janji antara satu pihak dengan pihak lain. Wa’ad hanya
mengikat satu pihak, yaitu pihak yang memberi janji berkewajiban untuk
melaksanakan kewajibannya. Sedangkan pihak yang diberi janji tidak memikul
kewajiban apa – apa terhadap pihak lainnya. Wa’ad belum ditetapkan
secara rinci dan spesifik, dengan demikian bila pihak yang berjanji tidak dapat
memenuhi janjinya, maka sanksi yang diterimanya lebih merupakan sanksi moral.
Akad adalah ikatan kontrak dua pihak yang telah bersepakat. Hal ini
berarti di dalam akad masing – masing pihak terikat untuk melaksanakan
kewajiban mereka masing – masing yang telah disepakati terlebih dahulu. Dalam
fiqh muamalat, pembahasan akad berdasarkan segi ada atau tidak adanya
kompensasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu aqad tabarru’ dan aqad
tijarah mu’awada.
Aqad tabarru’ adalah segala
macam perjanjian yang menyangkut transaksi nirlaba atau transaksi tidak
mengambil untung. Tujuan diterapkannya aqad tabarru’ adalah untuk
aktivitas tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Dalam aqad tabrru’ pihak
yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada
pihak lainnya. Imbalan dari aqad tabarru’ adalah dari Allah SWT, bukan
dari manusia. Aktivitas yang tergolong dalam aqad tabarru’ adalah
meminjamkan uang, meminjamkan jasa dan memberikan sesuatu.
Aktivitas
meminjamkan uang dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu meminjamkan harta atau
qard (pinjaman), meminjamkan harta dengan diberikan agunan oleh si
peminjam atau rahn (gadai) dan meminjamkan harta untuk mengambil alih
pinjaman dari pihak lain disebut hiwalah (pengalihan utang). Aktivitas
meminjamkan jasa dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu meminjamkan jasa pada
saat ini untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain disebut wakalah,
memberikan jasa untuk pemeliharaan uang atau barang disebut wadi’ah dan
memberikan jasa untuk melakukan sesuatu apabila terjadi sesuatu disebut kafalah.
Aktivitas memberikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dapat dilakukan
dengan cara hibah, shadaqah, infak, waqaf dan hadiah.
Fungsi aqad
tabarru’ adalah untuk mencari keuntungan akhirat, karena itu bukan akad
bisnis. Jadi, akad ini tidak dapat digunakan untuk tujuan – tujuan komersil. Bila
tujuannya adalah mendapatkan laba, gunakanlah akad – akad yang bersifat
komersil, yakni akad tijarah.
Akad tijarah
adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction.
Akad - akad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena itu bersifat
komersil. Contoh akad tijarah adalah akad – akad investasi, jual beli dan sewa
menyewa. Dalam menjalankan investasi, hasil atau keuntungan kadang dapat
dipastikan dan kadang tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, berdasarkan
tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya, akad tijarah dapat dibagi
menjadi dua kelompok besar, yakni Natural Uncertainty Contract dan Natural
Certaunty Contracts.
Natural Certainty Contracts adalah
kontrak yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk saling mempertukarkan aset
yang dimilikinya, karena itu objek pertukarannya (baik barang maupun jasa)
harus ditetapkan awal akad dengan pasti, baik jumlahnya (quantity),
mutunya (quality), harganya (price) dan waktu penyerahannya (time
of delivery). Jenis kontrak ini adalah kontrak – kontrak jual beli, upah
mengupah, sewa menyewa dan lain – lain yakni sebagai berikut akad jual beli (Al
– Bai’, Salam dan Istishna’) dan akad sewa menyewa (Ijarah dan
Ijarah Muntahia Bittamlik).
Dalam akad –
akad di atas, pihak – pihak yang bertransaksi saling mempertukarkan asetnya
(baik real assets maupun financial assets). Jadi masing – masing
pihak tetap berdiri – sendiri (tidak saling bercampur membentuk usaha baru), sehingga
tidak ada pertanggungan resiko bersama. Juga tidak ada percampuran aset si A
dengan aset si B. Sebagai contoh, tuan A memberikan b arang ke tuan B, kemudian
sebagai gantinya tuan B menyerahkan uang kepada tuan A. Disini barang
ditukarkan dengan uang, sehingga terjadilah kontrak jual – beli (al-bai’).
Natural
Uncertainty Contracts atau kontrak
yang secara alamiah tidak memberikan hasil pasti, adalah kontrak yang terjadi
jika pihak – pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real ssets
maupun financial assets) menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko
bersama – sama untuk mendapatkan keuntungan. Disini keuntungan dan kerugian
ditanggung bersama. Karena itu kontrak ini tidak memberikan kepastian
pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu
(timing). Termasuk dalam kontrak ini adalah kontrak – kontrak investasi.
Kontrak investasi ini secara “sunnatullah” (by their nature) tidak
menawarkan return yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya tidak fixed and
predetermined. Contoh – contoh NUC adalah sebagai berikut (1) musyarakah
terdiri atas wujuh, ‘inan, abdan, muwafadhah, mudharabah;(2) muzara’ah;
(3) musaqah dan (4) mukhabarah.
D.Kesimpulan
Berdasarkan
nilai – nilai moral Islam ini, orientasi manusia dalam mengelola hartanya
berdasarkan syari’ah Islam akan berorientasi pada dua hal. Pertama, pemanfaatan
harta tersebut digunakan untuk kelangsungan kehidupan diri dan keluarganya,
sebagai sebuah kebutuhan yang wajib berdasarkan kefitrahannya sebagai manusia.
Kedua, adalah pemanfaatan harta yang bermotif pada amal shaleh sebagai alat
dalam rangka mendapatkan gelar kemuliaan dari Tuhan.
Aktivitas pengelolaan harta juga harus dilandasi oleh prinsip
keyakinan bahwa setiap harta yang dibelanjakan dijalan Allah akan Allah lipat
gandakan balasannya, baik berupa pahala maupun balasan harta materiil.
Keyakinan ini pula menjadi sangat penting dalam rangka melindungi nilai
kekayaan tersebut. Salah satu cara melindungi nilai kekayaan dalam Islam adalah
menginfakannya dijalan Allah.
Gambaran hukum Islam mengenai prinsip – prinsip keuangan syari’ah
adalah tercakup dalam bentuk kontrak (akad) dan bentuk instrumen keuangan.
Hubungan ikatan dagang dan keuangan di dalam Islam diatur dengan hukum fiqh
muamalat. Fiqh muamalat membedakan antara wa’ad dengan akad (aqad).
E.Daftar Pustaka
1.
Bakar
Almascaty Hilmy. 2001. Panduan Jihad. Jakarta: Gema Insani Press.
2.
Muhamad.
Manajemen Keuangan Syariah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.